Beranda / Sosial Budaya / Hasim Adnan: Cinta Tanah Air Jangan Berhenti pada Simbol, Rakyat Harus Punya Ruang Hidup dan Akses atas Tanah

Hasim Adnan: Cinta Tanah Air Jangan Berhenti pada Simbol, Rakyat Harus Punya Ruang Hidup dan Akses atas Tanah

Opinisukabumi.id – Bagaimana merawat cinta tanah air ketika rakyat justru perlahan kehilangan tanah tempat mereka berpijak? Pertanyaan reflektif tersebut menjadi salah satu gagasan utama yang disampaikan Direktur National Leadership Academy (NLA) sekaligus Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Hasim Adnan, dalam kegiatan NLA Lecture Series II bertajuk “Sinema, Kebudayaan, dan Imajinasi Kebangsaan”.

Kegiatan yang berlangsung di Creative Hall, Jalan Kyai Haji Ahmad Dahlan No. 1, Kelurahan Burangrang, Kecamatan Lengkong, Kota Bandung, Minggu (18/10/2026), menghadirkan tiga narasumber dari latar belakang seni dan kebudayaan, yakni sutradara film Riri Riza, penyair Acep Zamzam Noor, serta seniman dan budayawan Sujiwo Tejo.

Forum ini sekaligus menjadi bagian dari ikhtiar menyambut momentum Hari Santri Nasional dengan mengangkat semangat “Merawat Tradisi, Membayangkan Indonesia.” Melalui kegiatan tersebut, NLA menghadirkan ruang dialog untuk mempertemukan perspektif sinema, sastra, kebudayaan, dan pemikiran kebangsaan dalam membaca tantangan Indonesia hari ini maupun masa depan.

Dalam sambutannya, Hasim Adnan mengangkat pertanyaan mendasar mengenai makna nasionalisme dan kecintaan terhadap tanah air di tengah persoalan penguasaan tanah dan semakin terbatasnya ruang hidup sebagian masyarakat.

Menurut Hasim, untuk memahami persoalan tersebut, masyarakat perlu membedakan dua hal, yakni mencintai tanah air dan memiliki tanah air.

Seseorang, lanjut Hasim, bisa saja kehilangan tanah yang diwariskan leluhurnya, tetapi tidak seharusnya kehilangan hak untuk mencintai negeri tempat ia dilahirkan.

Namun, di situlah terdapat ironi yang menyakitkan. Bagaimana mungkin seseorang diminta mencintai tanah airnya, sementara secara perlahan kehilangan tempat berpijak di tanahnya sendiri?

Hasim menilai, pertanyaan tersebut penting menjadi bahan refleksi bersama karena nasionalisme tidak boleh hanya dimaknai sebagai ikatan emosional terhadap simbol-simbol negara.

Menurutnya, cinta tanah air tidak cukup diwujudkan melalui pengibaran bendera, menyanyikan lagu kebangsaan, ataupun mengenang jasa para pahlawan. Lebih dari itu, nasionalisme harus tercermin dalam keberpihakan terhadap kehidupan dan kesejahteraan rakyat.

“Cinta tanah air juga harus diwujudkan dalam perjuangan menjaga agar rakyat tetap memiliki ruang hidup, akses terhadap tanah, dan kesempatan untuk menikmati kemakmuran negerinya,” tegas Ketua DPC PKB Kabupaten Sukabumi tersebut.

Gagasan yang disampaikan Hasim tersebut memperluas pemaknaan nasionalisme dari sekadar simbol dan seremoni menjadi tanggung jawab nyata dalam memperjuangkan keadilan sosial.

Tanah bukan semata-mata aset ekonomi, melainkan bagian penting dari kehidupan masyarakat. Di atas tanah, rakyat membangun keluarga, mengembangkan kebudayaan, mempertahankan tradisi, serta menggantungkan masa depan generasi berikutnya.

Karena itu, persoalan hilangnya akses masyarakat terhadap tanah juga berkaitan dengan keberlanjutan kehidupan sosial, identitas budaya, dan kesejahteraan rakyat.

Dalam perspektif tersebut, mencintai Indonesia berarti turut memperjuangkan agar kemakmuran negeri dapat dirasakan secara lebih adil oleh masyarakat, bukan hanya menjadi kebanggaan yang berhenti pada narasi kebangsaan.

Selain mengangkat persoalan nasionalisme dan keadilan sosial, NLA Lecture Series II juga menghadirkan diskusi mengenai peran sinema dan kebudayaan dalam membentuk imajinasi kebangsaan.

Kehadiran Riri Riza, Acep Zamzam Noor, dan Sujiwo Tejo memberikan ruang bagi peserta untuk melihat Indonesia melalui berbagai perspektif seni, sastra, tradisi, dan pengalaman kebudayaan.

Sinema, sastra, dan seni bukan hanya medium ekspresi, tetapi juga sarana untuk merekam realitas sosial, merawat ingatan kolektif, menyampaikan kritik, serta membayangkan masa depan bangsa.

Melalui forum ini, Hasim Adnan ingin mempertemukan gagasan dari berbagai disiplin ilmu dan latar belakang kebudayaan agar lahir perspektif yang lebih luas dalam memahami persoalan kebangsaan.

Sementara itu, momentum menyambut Hari Santri Nasional dengan semangat “Merawat Tradisi, Membayangkan Indonesia” menjadi pengingat bahwa tradisi dan nilai-nilai luhur bangsa harus terus dirawat tanpa kehilangan keberanian untuk menjawab perubahan zaman.

Bagi NLA, membangun kepemimpinan masa depan tidak cukup hanya dengan membekali generasi muda kemampuan politik dan manajerial. Mereka juga perlu memiliki kepekaan kebudayaan, kesadaran sejarah, serta keberanian berpikir kritis terhadap berbagai persoalan masyarakat.

Melalui NLA Lecture Series II, Hasim Adnan berharap ruang-ruang dialog semacam ini dapat terus tumbuh menjadi tempat bertemunya gagasan, memperkuat kesadaran kebangsaan, dan melahirkan perspektif baru tentang Indonesia yang lebih adil dan berkeadaban.

Sebab, merawat cinta tanah air pada akhirnya bukan hanya tentang menjaga simbol dan kebanggaan terhadap bangsa, tetapi juga memastikan rakyat memiliki ruang untuk hidup, tumbuh, dan menikmati kemakmuran di tanah airnya sendiri.

Roby Cahyadi
OpiniSukabumi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *